Jumat, 14 Juli 2017

Cinta, Amanah & Taatku (Bab 1)




BAB 1
KAMPUS


Disebuah desa, hiduplah sebuah keluarga yang sangat sederhana. Namun mereka tentram dan bahagia. Sang suami yang bekerja sebagai petani, bisa dengan bangga menafkahi keluarganya dengan hasil yang baik lagi banyak. Istri yang baik dan sholehapun dimilikinya. Begitu sempurna hidup mereka dengan kehadiran seorang anak yang cantik. Sampai-sampai banyak para jawara dan bangsawan kampung ingin meminang sicantik. Tapi yah, karna begitu sulit memutuskan pasangan untuk anaknya, si bapak pun mengadakan sayembara. Sayembara yang tentu saja cukup sulit bagi para pejuang cinta ini. namun ada seorang pemuda yang berhasil memenangkan pertandingan itu, dan akhirnyapun menjadi bagian keluarga ini.

Yah, begitulah impian semua orang didunia. Punya hidup baik, rejeki baik, pasangan baik, dan selalu optimis. Entahlah hidup yang begitu ada beneran atau tidak. Yang pasti, dongeng hanyalah cara cepat untuk tidur.



4 tahun yang lalu

Mendung dilangit begitu enggan menumpahkan isi perutnya ke bumi ini. Tampak beliau masih ingin menampung lebih banyak uap air didalam kantungnya. Atau dia hanya ingin menunggu waktu bertabrakan dengan mendung lain untuk memberikan kejutan pada penghuni alam, berupa petir yang magis. Petir yang akan menyusupkan sedikit rasa takut dan gusar kedalam hati manusia. Bagaimana tidak takut? Sebagian manusia merasa khawatir dengan kehadirannya. Khawatir petir akan menurunkan hujan yang membawa banjir. Khawatir petir akan merusak sambungan internet mereka. Khawatir untuk berjalan keluar dan tersambar kilatan indahnya. Dan bagi sebagian orang tua mengabarkan pada anak-anaknya kalau petir adalah bentuk polisi alam yang akan menghukum jika mereka berbuat nakal. Setidaknya itu yang diberitahukan padaku saat kecil. 

Kakiku tampak tak bersemangat untuk segera pulang. Padahal awan hitam begitu girang menunggu detik-detik pertemuan mereka dengan tanah kering. Jarak tempuh kampus dan istana kecilku (baca : kos-kosan), hanya tersisa 500m. Bisa kutempuh dengan berlari kecil, hingga file-file bahan kuliah dan panel ini bisa kuselamatkan. Ahhhh,,, tapi sekali lagi malas begitu menaungi. Aku hanya melangkah santai, dan gontai. Lebih tepatnya malas. Hanya berharap saat mendarat di teras penuh bunga ibu penjaga, dalam keadaan tidak tersentuh air hujan. Begitu pesimis. 

Yah, begitulah diriku. Wanita pesimis. Hanya berharap apa yang ada dihadapan, tidak hadir begitu buruk, atau begitu mewah. Keadaan yang biasa aja, adalah sebuah anugerah bagiku. Terhindar dari masalah besar, ada keajaiban penting yang selalu kusyukuri. Tidak ingin berubah menjadi lebih ceria atau bahagia. Yah, hanya ingin semua berjalan biasa. Begitu pesimis. Tak heran, pertemanan yang biasapun ku dapat. Yang penting semua berjalan tanpa masalah. Itu cukup bagitu. Walau kadang ingin tampak bersinar seperti Fitri gadis Padang nan cantik dan supel, yang begitu mempesona kaum Adam. Atau si Zeni, gadis tomboy dengan style ngasal, tapi mampu menyihir laki-laki dengan pribadinya yang humble. Sekali lagi, begitu masalah menjauh dariku, itu cukup membuatku bahagia dunia akhirat. 

“Hoi!”. 

Aku terkejut oleh sentakan Salma dari belakangku. Beberapa pengunjung warteg, sekitar kampusku merasa terganggu dengan suara nyaring, dan menatap penuh rasa ingin tahu kelanjutan adegan ini. Pasalnya, miniatur panel sikring dari alumnium yang sedari bengkel tadi aku pegang, jatuh ke aspal jalanan ini. PRANG!!!

“Ya  Allah Salma!” setengah berteriak aku memungut kembali panel tak berdosa ini. sebegitu pesimiskah aku, hingga tak mampu menjaga panel ini dengan baik. Padahal, hanya kejutan sederhsana yang mengganggu. 

“Lagian bengong. Udah mau hujan juga. Yuklah buruan.” Jawabnya sambil menggandeng lengan kiriku. 

Terseret aku mengikuti irama langkah kakinya yang cepat, melewati turunan jalan menuju ke sebuah rumah diujung jalan itu. Sedikit berkerikil, dan beberapa rumah besar dengan kamar yang banyak kami lewati. Sesekali terdengar tertawa dan candaan para penghuni yang menempatinya. Tahu sendirilah ya, kawasan kampus, pasti didominasi oleh puluhan bahkan ratusan rumah-rumah yang menyediakan kamar-kamar terbaik mereka untuk ditempati para mahasiswa rantau, bahkan mahasiswa yang hanya tidak ingin menghabiskan waktu dijalanan untuk menuntut ilmu, walaupun rumahnya hanya berjarak beberapa kilometer dari kampus itu. 

Benar. Prasangkaku pada mendung benar. Dia mulai beringas, tepat saat kakiku menginjak teras rumah berwarna hijau dengan 3 lantai ini. Bagai ditumpahkan dari ember besar, air hujan menyirami bumi dengan sombong, seolah berkata ‘Lihat wahai manusia, begitu banyak air yang kumiliki. Siapkah kalian menerima nikmat ini?’. Begitu juga dengan petir. Tak mau kalah dengan awan gendut. Mereka menari sekali-kali menerangi langit yang begitu gelap sore ini. Bumi dengan segala kerendahan diri, menerima kunjungan hujan dan petir dengan sabar, sambil terus mengirim sihir ajaibnya untuk menyuburkan tanah. Dedaunan yang tak luput dari saapan hujan, tampak menari-nari bahagia disepanjang ranting. Bunga-bunga pun begitu menawan saat terkena air hujan, tak berdampak apa-apa pada hatiku. Begitu pesimis. Hanya satu kelegaan dihatiku, bahan kuliahku yang tertuang pada kertas-kertas itu, berhasil bebas dari siraman air hujan. Begitu juga panel sikring ini. Aman. 

Tidak begitu dengan Salma. Doi tampak begitu bahagia, saat menapak dirumah ini dengan selamat tanpa basah setetespun. Tentu saja! Secepat kilat, dia berlari kelantai tiga. Dia berhasil menyelamatkan cuciannya yang sudah kering dari beberapa hari yang lalu. Karna kesibukan dan kelalaian, cucian-cucian itu begitu merana menunggu sang pemilik menyelamatkannya dari terik matahari dan hujan yang segera akan berkunjung. Begitulah salah satu penyakit anak kosan. Karna tidak ada yang mengingatkan untuk peduli dengan barang-barang sendiri saat jauh dari keluarga, alamlah yang mengingatkan. Tanpa banyak bicara, kami masuk kekamar masing-masing dan larut dengan dunia kami sendiri. Tak banyak aktifitas yang bisa kami lakukan dikamar. Selain belajar, tidur atau sekedar leyeh-leyehan. 

Kos-kosan ini sebetulnya cukup membuat para mahasiswa yang tinggal disini merasa sangat nyaman. Ruang santai ada di setiap lantai rumah ini. Sebuah televisi yang tidak begitu ketinggalan jaman bertengger disebuah meja kayu jati ditengah ruangan besar di lantai 2 ini, terasa sangat artistik. Sofa tua yang mulai menampak kerutan di berbagai sisi kulitnya, masih mampu membuat kami para penghuni betah berlama-lama duduk dibadan empuknya. Dipojokann ruangan ini ada sebuah rak besi yang senada dengan warna meja kayu jati. Dari buku-buku agama, novel, komik dan beberapa buku pengetahuan umum, memadati setiap ruang rak itu. Sebagian ada buku-buku  penghuni lama dan penghuni baru. Ada juga sumbangan dari pemilik rumah yang juga mencintai buku. 


Semakin membuat cozy kosan bercat hijau muda ini. Ruang tengah juga sering kami gunakan untuk makan bersama, belajar bersama bahkan kadang kami gunakan untuk bergosip bersama. Yang begitu aku suka dengan rumah ini adalah Ibu penjaga yang baik. Beliau sering kali menyediakan kami makanan secara gratis. Maklum, anak kosan. Mendapatkan makanan secara gratis dan enak merupakan sebuah kebahagiaan sederhana yang mampu membuat hati berbunga-bunga. Khususnya bagi anak rantau yang sukar ditebak kehadiran uang direkeningnya. 

Tok..tok..tok... Pukul tujuh malam itu. Terdengar pintu kamarku diketuk oleh seseorang yang sebenarnya bisa kutebak kehadirannya dari irama langkah kakinya.

“Triza, beli makan di warteg depan yuk!. Cheryl udah menunggu dibawah.” ajak Salma sambil melongokkan kepalanya dari balik pintu kamarku. 

Yah, begitulah kami. Karna kosan ini dikhususkan untuk perempuan, jadi kami tidak memiliki kewajiban untuk mengunci dari dalam kamar-kamar kami. Kami mengizinkan siapapun bebas keluar masuk kamar kami. Btw, Triza adalah namaku. Entah darimana kedua orangtuaku menemukan nama ini. Dan akupun tidak ada keinginan lebih dalam untuk mengetahui kenapa dan apa arti nama ini. Begitu pesimis.

“Oke. Wait. Pake cardigan dulu yak”. Kujawab ajakannya dengan langsung meraih cardigan yang tergantung disisi belakang pintu kamarku. 

Sejumlah uang yang tergeletak begitu saja dimeja belajar, sisa jajan sarapan tadi, langsung kumasukkan kedalam kantung celana. Kami bertiga, berjalan sejauh 100 meter dari kosan kami. Salma dan Cheryl tampak menggosipkan seorang wanita cantik di fakultasnya yang tertangkap sedang merokok di kantin akuntansi siang ini. sicantik itu, langsung menjadi sasaran empuk, para wanita-wanita kekurangan hiburan yang berada disekitarnya. Ya, dua wanita ini adalah mahasiswa tingkat akhir fakultas akuntansi dikampus kami. Sedang aku sendiri mahasiswa teknik listrik yang juga sedang mempersiapkan tugas akhir untuk syarat kelulusan kami. Menyimak pembicaraan mereka. Tampaknya aku tahu siapa yang mereka bicarakan.

Warung makan asal Tegal yang lebih dikenal dengan warteg ini, tampak ramai oleh pengunjung yang tidak hanya berasal dari wilayah situ. Kenapa? Karna sistem mereka adalah prasmanan. Dan itu membuat hati para pengunjung bahagia, karna bisa mengambil nasi sepuasnya dengan lauk dengan porsi besar, namun harga yang ditawarkan sangat miring. Kabarnya, sang pemilik warteg ini adalah orang kaya yang mendedikasikan masa tuanya untuk memakmurkan mahasiswa disekitar rumahnya. Bahkan tidak sedikit yang kadang benar-benar menumpang makan disitu. Dari rasa sih, warteg ini sangat biasa kadar micin yang tidak begitu banyak. Jadi jangan heran, kalau masakannya begitu standar. Namun yah, itu tadi. Prasmanan, besar dan murah, mampu membuat kami bertahan dengan rasa yang biasanya. 

“Gue mau pake telur dadar dan ikan pesmol ya Sal. Nasinya dikit aja. Udah cukup banyak karbo gue hari ini.” Pinta Cheryl sambil menunjuk masakan yang dia inginkan. Dengan postur Cheryl yang sempurna, wajar kalau dia begitu menghitung jumlah karbo yang masuk ketubuhnya. Ga sedikit, para lelaki menginginkan dia menjadi pacar. Hanya saja, dia terlalu cuek untuk menjalin hubungan. Kalau katanya sih, ‘melelahkan menjalin hubungan itu’.

“Lu apa Tri?” tanya Salma tanpa memandangku. Matanya sibuk berkelana dari satu lauk ke lauk lain.

“Gue ayam balado aja. Pake perkedel ya”. 

Tanpa menunggu lama, Salma langsung berlari ke pramusaji yang standby dibalik etalase lauk. Memang prasmanan, namun bagi yang ingin dibungkus dan dibawa pulang, mereka memperkerjakan 2 orang mba-mba yang sigap membantu. Salma tampak sibuk dengan pesanan kami. Doi emang kami juluki, pengasuh kamu. Dari soal makan, bangun tidur dan sholat, kami selalu diingatkan. Dan dia dengan sukarela tanpa pamrih mau melakukan itu. 

Disekitar kami tampak beberapa pemuda-pemuda begitu lahap dengan makanan dihadapannya. Sambil sesekali mengudap kerupuk gendut ditangan mereka. Entah kenapa setiap kali melihat cowok makan, aku sering heran. Cepat dan besar suapan yang menakjubkan bisa mereka selesaikan dengan bahagia. Seolah itu makanan terakhir dibumi ini yang mereka makan. Sesekali berbincang dengan teman disebelahnya, mata mereka masih bisa fokus mengunyah makanan dengan teratur. Sedang dipojok sana ada 2 orang mahasiswi dengan porsi makan yang sedikit sedang sibuk membalas sms atau chat yang bersileweran masuk ke ponsel mereka. Walau berdua, mereka tampak hampa tanpa perbincangan yang berarti.

“Tri, kabarnya tadi siang panel lu meledak.” Tanya Cheryl santai memecah lamunanku sambil memainkan rambut panjangnya. 

“Hmmm, bukan meledak sih. Ada sirkuit dari PCB gue yang putus jalurnya, jadi sedikit trouble gitu deh. Mau ga mau gue kudu bikin ulang untuk part itu.” 

“Emang ga bisa dimodifikasi gitu? Kenapa harus bikin ulang?” lanjutnya kepo. Walau kutahu dia ga bermaksud ingin tahu lebih banyak.

“Haruslah, ga bisa digunain lagi kalo udah trouble. Bahaya.” Jawabku sekenanya.

“Oooo gitu. Pantesan tadi gue ga liat lu di kantin teknik pas makan siang. Kan biasanya lu sama genk lu pasti nongol disono.” Aku Cuma mengangguk pernyataannya. 

Genk. Itu adalah sebutan untuk sekelompok orang yang selalu bersama kemana-mana kali ya. Memang ada beberapa teman yang dengan sukarela selalu aku ikuti. Entah karna aku membutuhkan mereka, atau karna memang kewajiban yang mengharuskan kami selalu bersama. Dijurusanku, banyak project yang harus dikerjakan bersama. Karna diteknik itu, begitu sangat dibutuhkan teamwork untuk berbagai urusan. Dari mengerjakan praktik di lab elektro, membuat laporan lab itu sendiri, mendesign panel-panel sederhana yang digunakan dirumah dan berbagai project lain yang membutuhkan tenaga banyak. Bahkan tak jarang kami bekerjasama saat ujian. Kalimat terakhir boleh dikatakan sering. 

Sejak fokus mengerjakan tugas akhir ini, sebenarnya aku sendiri jarang berada dikosan. Kebanyakan waktuku dihabiskan dibengkel atau di kosan teman se-timku. Percobaan dan proses pembikinin tugas akhir ini menyita banyak waktu dan kosentrasi. Bahkan materi yang kami butuhkan cukup banyak pula. Kalau teman-teman dari akuntansi cukup mencari data dari perusahaan dan kemudian menyajikan dalam laporan akhir mereka, sedang kami perlu membeli berbagai komponen listrik dan menciptakan trobosan baru dibidang elektro yang kelak bisa digunakan untuk berbagai kebutuhan hidup. Kira-kira kurang lebih begitu kehidupan yang kujalani selama beberapa bulan kedepan. 

Salma bergegas kemeja kasir membayar makanan kami. Tampak tiga bungkusan kecil ditangan mungilnya. Langsung kusambar dan menggantungkannya ditanganku. Dengan senyum tulus, dia menoleh kepadaku. Cheryl pun berlari ke warung sebelah demi membeli beberapa cemilan kesukaan kami. Begitulah kami bertiga berteman. Sudah jadi seperti kebiasaan yang terus berulang secara sistematis bagai alur hidup kami. 

Dan sesaat kami keluar warteg itu, segerombol cowok datang dengan motor-motor andalam mereka. Suasana parkiran yang ramai, tak heran membuat mba-mba penjaga warteg bahagia. Yang itu artinya, lauk-lauk yang masih berjejer manis dihadapan mereka akan segera punah menemui pelabuhannya, dan mereka bisa pulang dengan perasaan damai, bahwasanya, tidak ada makanan sisa hari ini. Sekitar 4 atau 5 laki-laki turun bersamaan, dan langsung masuk ke warteg yang sudah hampir seperti cafe bergengsi diwilayah kampus ini. Sebagian mereka kukenal, karna mereka salah satu korban-korban gosip kampus oleh para gosiper yang haus popularitas. Sebut saja mereka geng cowok-cowok idola. Diantara mereka smua, diapun hadir......

bersambung...

Cinta, Amanah dan Taatku (Prolog)






Prolog 
“Ga..ga..garis dua?” ucapku tertahan.

Kupandangi benda seperti termometer yang tak memiliki angka-angka derajat suhu itu dalam. Test pack. Garis merah dua berjejer rapi. Menandakan bahwa yang telah menuangkan air kencing ke benda ini, sedang berbadan dua. Hamil. Kaki ku seketika bergetar hebat dan tak mampu menahan tubuh kecil ini. Tak perlu menunggu lama, aku terduduk lemas. Masih terpaku.

“Eii,,, ga mungkinlah ya” kembali aku bergunam pelan dengan secuil senyum kecut, namun panik dan ketakutan seketika merasuk kedalam hati. Kamar kecil yang sempit itu semakin terasa sangat kecil. Ruangan 4x5 ini terasa menghimpit diriku. Masih memakai daster kesayanganku yang telah lusuh, menjadi saksi betapa keterkejutan atas sikembar bergaris merah ini begitu menghantui.

Mungkin sebagian keluarga akan sangat senang dengan “tamu” ini. Bahkan begitu ditunggu dan diharapkan. Tapi aku? Apakah kebahagiaan itu begitu diinginkan? Atau ini adalah sebuah teguran?

Sudah hampir 3 bulan sejak perceraianku dengan Zaki berlalu. Dan aku bukanlah wanita nakal yang bisa tidur dengan sembarang lelaki. Aku seorang wanita bermartabat. Tak pernah sekalipun aku berhubungan dengan laki-laki selain suamiku. Tapi ini? Apa ini?

Aku bukanlah Maryam yang dengan kekuasaan Tuhan bisa hamil diluar nikah tanpa berzina. Aku juga bukanlah seorang wanita suci yang memungkinkan hal ini terjadi. Sekali lagi aku hanya seorang wanita biasa yang baru saja menjalani hidup sebagai janda. Janda muda. Ya, itulah statusku.

Dengan langkah sangat berat, dan tangan gemetar, kuraih testpack kedua yang masih terbungkus rapi di rak sabunku. Sekali lagi kucoba. Kali ini aku mohon Tuhan, hilangkanlah ketakutanku yang bertengger di hati ini. Tolonglah. Dan beberapa saat....



bersambung....